Ps Yudi Lau : Mencairkan "Kepala Batu" Dalam Hidup Kita
. Ps Yudi Lau"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8)
Refleksi Sebongkah es beku memiliki kekerasan yang cukup untuk menyakiti bila terlempar mengenai kepala kita,
Bongkahan es itu di sebut juga es batu bukan hanya karena bentuk tetapi juga kekerasannya.
Bila kita menggenggamnya erat², maka tangan kita tak akan merasa nyaman, melainkan justru kedinginan menusuk kita rasakan.
Saat kita masukkan bongkahan es batu itu ke dalam gelas berisi air, maka es batu itu tidak saja mencair, tapi juga mampu mendinginkan air di dalam gelas itu.
Kita pun memiliki es batu berupa "kepala batu", begitu tinggi harga diri seakan merasa paling unggul dan mulia di banding yang lain tanpa menyadari kepala batu dapat menyakiti sekitar kita.
Semakin kita mempertahankan "kepala batu", sebenarnya hanya membuat semakin berat dan besar beban yang harus di pikul akibat kita sendiri.
Seandainya "kepala batu" itu dapat kita cairkan seperti es batu yang perlahan tapi pasti mencair di dalam gelas air, maka kita akan memperoleh suasana yang sejuk dan memberi manfaat bagi banyak orang di sekitar kita.
Es batu itu adalah "konsep diri" kita yang seringkali memupuk ego, bukannya Kerendahan Hati; Menumpuk gengsi demi harga diri yang se-olah² sejati padahal semu.
Menempatkan martabat se-tinggi²nya dengan pengertian itulah Tujuan Hidup Mulia, walau sesungguhnya justru itulah penyebab kehancuran.
Air di gelas adalah Kerendahan Hati yang mampu mencairkan kebekuan,meluruhkan kesombongan, menyejukkan bara angkara, dan pada akhirnya Menumbuhkan Kebijaksanaan.
TETAPLAH MAWAS DIRI, KARENA AIR YANG MEMBEKU AKAN MENJADI ES BATU.
“Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.” (Mazmur 25:9)
Goϑ ϐlešš Yoυ