Perumpamaan Tentang Pukat (Mat. 13:47-52)
Yohan Winata, S.Pd, M.Th
ARTIKEL- Pada waktu itu, Yesus sedang mengajar suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya: pukat (jala) yang ditebar di laut dan mendapatkan bermacam-macam jenis ikan ikan (ay. 47).
Waktu penuh, para nelayan sortir ikan yang baik dan yang jelek. Yang baik dimasukkan ke dalam pasu (sebuah wadah yang terbuat dari tanah liat yang dipergunakan untuk menyimpan air).
Penjelasan perumpamaan yang diberikan yaitu di akhir zaman, para malaikat diperintahkan untuk memisahkan orang jahat dari orang benar dan membuang orang jahat ke dapur api yang terdapat penyiksaan di sana (ay. 50).
Selain menyampaikan tentang arti perumpamaan itu, Yesus menyampaikan hal lain: penilaiannya atas ahli Taurat yang menerima (membuka hati) bagi ajaran-Nya tentang Kerajaan Surga.
Hal ini seperti yang dicatat di ayat 52, “Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya."
Untuk menggali makna kata kerja utama di ayat ini (“mengeluarkan”), maka penulis melakukan penelusuran menggunakan metode studi kata dari bahasa asli. Kata Yunani untuk “mengeluarkan” yaitu ekballo.
Kata ini memiliki lebih dari satu arti. Ditinjau dari konteksnya, maka makna yang tepat untuk kata ini yaitu melakukan sesuatu tanpa pemaksaan; melepaskan atau menyingkirkan.
Dihubungkan dengan pembahasan di paragraf sebelumnya, kelompok Yahudi Mesianik (ahli taurat yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Mesias) diibaratkan seseorang yang punya rumah yang mengeluarkan benda yang baru untuk menggantikan benda yang lama.
Keyakinan yang berakar kuat pada dibenarkan karena melakukan Hukum Taurat; ditantang dengan dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus (Gal. 2:16). Mereka menerima berita Kerajaan Surga sehingga melepaskan dengan rela (tanpa dipaksa oleh Yesus) keyakinan sebelumnya (“harta yang lama dari perbendaharaannya”).
Pembahasan berikutnya yang terkandung di perikop ini yaitu pemisahan antara orang jahat dan benar, kemudian tindak lanjut kepada mereka (bagaimana para malaikat menangani kedua kelompok tersebut). Orang-orang yang tidak percaya kepada Injil mereka akan dihukum (dimasukkan “ke dalam dapur api” sebagaimana dicatat di ayat 50).
Di lain pihak, orang-orang yang percaya pada pemberitaan Yesus (termasuk kelompok ahli taurat yang disebut-Nya) tidak dihukum dan memiliki hidup yang kekal dan di hidupnya saat ini telah dipindahkan tempat oleh Allah dari maut kepada hidup (Yoh.5:24).
Mereka masih hidup di dunia namun kelak akan berada di tempat di mana Allah berada. Orang-orang percaya tersebut sudah menerima janji keselamatan namun menantikan penggenapannya yang masih menunggu; pasti akan terjadi dalam sejarah manusia. Apa yang akan terjadi pada mereka ini dilukiskan: ikan yang baik dikumpulkan di pasu (ay. 48).
Setelah kita belajar memaknai perikop ini, apa yang kita perlu lakukan selanjutnya? Sebagai orang percaya, kita bisa berbuat sesuatu: beritakan Injil dan berdoa bagi mereka yang kita layani.
Izinkan Allah Roh Kudus bekerja, maka, lihatlah orang-orang itu akan datang kepada Yesus Kristus, beroleh pengampunan, pembaruan akal budi (diselamatkan karena iman saja bukan karena perbuatan), memegang teguh keyakinan ini sepanjang hayat dan meneruskan kepada yang lain.
Penulis: Yohan Winata, S.Pd, M.Th