News Breaking
Youtube
wb_sunny

Breaking News

Pemaknaan Perumpamaan Gadis Bodoh dan Gadis Bijaksana (Mat. 25:1-13)

Pemaknaan Perumpamaan Gadis Bodoh dan Gadis Bijaksana (Mat. 25:1-13)


ARTIKEL- Ketika membahas hal ini, saya menyadari ada suatu pekerjaan yang mendesak untuk dilakukan yaitu mendefinisikan siapakah yang dimaksud Yesus: kelompok gadis bodoh dan gadis bijaksana. 

Metode yang digunakan di artikel ini yaitu membandingkan tiga perikop lintas kitab dari dua penulis Injil Sinoptik, Matius dan Lukas, yang membahas tentang frasa “perjamuan kawin” dan penutupan pintu oleh tuan rumah atau mempelai. Selanjutnya, menggali makna menggunakan konteks dekat dan jauh. Bentuk sastra tiga perikop ini: perumpamaan. 
Yesus membahas Kerajaan Sorga: mengibaratkan hal itu dengan sepuluh gadis yang pergi menyongsong sang mempelai pria. Di tangan mereka, mereka membawa pelita (ay. 1). 

Lima gadis pertama pergi dengan tidak membawa minyak untuk menyalakan pelita mereka. Di lain pihak, lima gadis lain juga pergi dan memiliki persediaan minyak. Mereka yang membawa minyak disebut Yesus gadis bijaksana sedangkan yang tidak disebut gadis bodoh.     

Dalam penantian yang tuk kunjung datang, mereka semua mengantuk dan tertidur (ay.5). Tiba-tiba terdengarlah teriakan, “Mempelai datang, songsonglah dia!” Mereka semua terbangun dan mempersiapkan pelita mereka. Lima gadis bodoh itu meminta sedikit minyak dari lima gadis bijaksana. Namun mereka tidak diberi; disarankan untuk membeli di penjual minyak (ay. 9). 

Mempelai pria itu datang ketika mereka sedang pergi. Lima orang lain masuk ke ruang perjamuan kawin dan pintu ditutup. Ketika kembali, lima gadis yang tertinggal meminta untuk dibukakan pintu tapi ditanggapi, “…, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.” (ay. 12).     
      
Dikisahkan di Matius 22:3-14, seorang raja akan mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia mengundang orang-orang yang telah diundang tetapi tidak ada yang datang. Di kesempatan kedua, dia mengutus orang-orang lain untuk mengajak mereka hadir di perjamuan kawin itu. 
Mereka ada yang tidak menganggap dengan melakukan kegiatan mereka bahkan ada yang menangkap, menyiksa dan membunuh. Hal ini dipahami: keselamatan telah diberikan oleh Allah sejak nenek moyang bangsa Israel namun ditolak. 

Respon sama ditunjukkan oleh ahli Taurat dan orang Farisi atas Injil Yesus. Karena penolakan mereka, berita disampaikan kepada bangsa-bangsa di luar Yahudi dan diresponi (percaya sehingga diselamatkan). 

Alhasil, mereka mengikuti perjamuan kawin, sebagaimana dicatat, “Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ... .” 
Namun, ada satu hal yang menarik perhatian raja: orang yang tidak mengenakan pakaian pesta. 

Alhasil, tamu yang diundang itu dilemparkan ke tempat yang tergelap dengan mengalami penyiksaan (ay.13). Untuk dapat memahami hal ini, maka, kita perlu melakukan pembahasan perikop “Siapa yang diselamatkan” (Luk. 13:22-30); dengan fokus menganalisa subyek di ayat 30: “orang yang terakhir” dan “orang yang terdahulu”.  

Menurut hemat saya, “orang yang terakhir akan jadi terdahulu” dipahami: orang-orang yang akan percaya akan Injil sebagai akibat dari pelayanan pemberitaan para suksesor Yesus di kemudian hari: para rasul. Tafsiran ini didasarkan pada keterangan di ayat 29 “akan datang dari Timur dan Barat dan Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah.”

Sedangkan yang dimaksud dengan “yang terdahulu menjadi terakhir” yaitu mereka yang di zaman Yesus mendengar ajaran-Nya dan ikut perjamuan makan dan minum bersama Yesus namun dinilai melakukan kejahatan (ay.26). 

Siapakah mereka? Kebingungan terselesaikan setelah kita membaca Matius 25:40 dan 45: kemungkinan besar kejahatan yang dimaksud: pembiaran orang yang berdaya menolong atas orang percaya lain yang tidak terpandang karena status sosialnya ketika mereka menderita. 

Argumen ini didasarkan pada kekonsistenan penulisan obyek perbuatan kasih, orang yang percaya kepada Yesus dan melakukan kehendak Allah (bdk. Mrk. 3:35), yang dicetak tebal di ayat berikut ini: 40 “…, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” 

Obyek yang sama muncul di ayat 45, “…, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya untuk Aku.”
Jadi, yang dimaksud oleh Yesus “gadis bodoh”: bangsa Israel secara general yang diwakili oleh sikap ahli Taurat yang menolak keMesiasan-Nya yang telah datang ke dunia sehingga melewatkan berkat keselamatan dalam Dia. 

Alternatif lain mengacu kepada believer Injil namun tidak mengasihi sesama orang percaya lainnya. “Gadis bijaksana” adalah believer Injil Yesus sehingga diselamatkan dan mengasihi sesama orang percaya yang membutuhkan.            
Penulis: Yohan Winata, S.Pd, M.Th

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.