Pemaknaan atas Perumpamaan Yesus Tentang Penabur (Mat. 13:1-23)
ARTIKEL- Yesus menyebutkan tentang perumpamaan tentang penabur yang meletakkan benih di: pinggir jalan (ay.4), tanah berbatu-batu dengan sedikit tanah (ay. 5-6), semak duri (ay. 7), dan tanah yang baik (ay. 8).
Ay. 11: Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak.
Ay. 12: Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
Penjelasan tentang siapa yang dimaksud dengan “kepadamu”: karunia untuk mengerti rahasia Kerajaan Sorga hanya diberikan kepada dua belas murid pertama Yesus.
Tafsiran atas ayat 11 dan 12: para murid Yesus yang percaya kepada-Nya, “diberi” sehingga mengakibatkan mempunyai “berkelimpahan” dalam pengenalan akan Tuhan (Injil Yesus dan pengalaman menyaksikan mukjizat-mukjizat-Nya selama pelayanan Yesus di dunia). Sedangkan Yesus tidak memberikan karunia untuk mengerti rahasia kerajaan Surga kepada orang Yahudi (karena mereka bersikeras menolak Dia). Keadaan ini disebut “tidak” dikaruniai yang menyebabkan “tidak mempunyai” (ay. 12) keselamatan di dalam Yesus karena penolakan mereka. Anak kalimat, “tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya, dimaknai keselamatan itu diberikan kepada goyim (bangsa2 asing di luar Yahudi).
Ay. 15 berisi alasan Yesus berkata kepada khalayak dalam perumpamaan yaitu supaya mereka:
[Penyebab] 15 Sebab hati bangsa ini telah menebal dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup;
[Tujuannya] supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.
Tafsiran: bangsa Israel yang diwakilkan oleh para pemimpin agama mereka; atas kehendak mereka sendiri menolak Yesus. Pesan Sang Mesias selanjutnya (di bagian tujuan di atas) ditafsirkan biarkan mereka tetap tinggal dalam kekerasan hatinya sehingga tidak mengalami berkat keselamatan karena percaya kepada Sang Mesias.
Ay. 17: Yesus menyampaikan betapa beruntungnya para murid karena bisa melihat Yesus dan mendengar ajaran-Nya
Arti perumpamaan (ay. 18-22)
Penabur di sini adalah Tuhan Yesus. Media benih itu jatuh adalah para pendengar berita Kerajaan Surga Yesus.
Benih yang ditaburkan di tepi jalan (ay. 19): dengar berita Yesus tapi tidak mengerti, kemudian si jahat merampas apa yang didengarnya.
Benih ditabur di tanah berbatu-batu (ay. 20): dengar Injil Yesus dengan hati gembira tapi tidak bertumbuh (“tidak berakar dan tahan sebentar saja”). Ketika imannya ditantang oleh penderitaan karena firman, maka, orang itu murtad.
Benih di semak duri berarti: dia tidak percaya dengan segenap hati (“kekuatiran dunia ini”) dan dicobai oleh si jahat melalui kekayaan (setan melakukan “tipu daya…” sehingga firman itu tidak berbuah.
Benih ditabur di tanah baik: mendengar Firman, mengerti sehingga berbuah bagi kerajaan Allah.
Pengapplikasian Firman Tuhan ini yaitu jangan mengeraskan hati waktu mendengarkan Firman-Nya; sambutlah sabda-Nya dengan hati yang lembut. Pengerasan hati hanya berujung kepada pengerdilan iman: tidak bisa bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dengan lebih mendalam dan jelas dan dalam hal pelayanan serta minimnya pengalaman menyaksikan pimpinan Tuhan dalam hidup.
Penulis: Yohan Winata, S.Pd, M.Th