Menggali Makna 1 Tawarikh 11:10-19
Yohan Winata, S.Pd, M.Th
ARTIKEL- Pernahkah kita duduk dan bercerita sambil lalu ke orang di sebelah tentang keinginan hati? Orang itu mendengarkan dengan antusias.
Beberapa hari kemudian, bel di depan rumah berbunyi; buka tirai dari tempat tidur, ternyata teman itu datang. Dia berdiri di depan pintu dan membawa sesuatu; segera pamit ketika barang sudah diterima.
Begitu si pengirim pulang, kotak dibuka; mata penerima membesar, menarik nafas dalam-dalam dan menutup mulut seakan tak percaya bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
Pengalaman seperti ini pernah dialami oleh tokoh besar dalam Perjanjian Lama: Daud. Suatu ketika dia berada di gunung batu dekat gua Adulam. Orang Filistin pada waktu itu berada di Betlehem. Raja Israel itu ingin minum dari sumur Betlehem yang ada di dekat pintu gerbang (ay. 17).
Permintaan ini didengar oleh triwira Daud, Yasobam bin Hakhmoni, Eleazar anak Dodo orang Ahohi dan satu orang lagi yang namanya tidak disebutkan (ay 11-12, 15). Mereka mendobrak perkemahan orang Filistin, mengambil air di sumur itu dan kembali kepada Daud (ay. 18a).
Tiga orang itu menemui Daud dan mempersilahkan raja untuk minum. Air itu tidak diminum tapi dituangkan; dipersembahkan sebagai korban curahan kepada Tuhan (ay. 18). Daud berkomentar, “katanya: Jauhlah dari padaku, ya Allah, untuk berbuat demikian! Patutkah aku meminum darah taruhan nyawa orang-orang ini?”
Yang dimaksud Daud yaitu ketiga pahlawan tertinggi Daud telah bertaruh nyawa untuk memenuhi keinginannya. Dia merasa tidak layak untuk menikmati air yang mereka bawa.
Tindakan penolakan Daud ini dapat juga dilihat sebagai upaya menghargai kehidupan (nyawa) yang lebih berharga dari pada keinginan. Kembalinya triwira Daud dengan selamat disadari karena penyertaan Tuhan. Oleh karenanya, Daud memilih mempersembahkan kepada-Nya. Kesimpulan ini bertolak dari narasi senada namun terjadi kepada Yakub ketika mendapatkan penyataan Tuhan untuk pergi ke Betel dalam rangka mendirikan mezbah bagi Allah.
Dia mengajak seisi rumahnya dan memberitahu alasan mengapa dia melakukannya: “… Allah, yang telah menjawab aku pada masa kesesakanku dan yang telah menyertai aku di jalan yang kutempuh.”
Masa kesesakan dia dimulai ketika melarikan diri dari kakaknya pasca merebut hak kesulungan; mencapai puncaknya ketika berhadapan dengan Esau. Yakub yang takut dibunuh (Kej. 33:1, 4, 8, 10-11), dilepaskan Tuhan dari tangan Esau.
Pesan ini relevan dengan kehidupan kita. Setiap murid Kristus diminta untuk menghargai orang-orang yang telah membantu dia untuk mejalankan pekerjaan atau usaha atau pelayanan. Penghargaan diwujudkan dalam tindakan kasih. Setiap dukungan yang diberikan terjadi karena kasih karunia Tuhan.
Selain menerima, kita bisa mengucap syukur kepada Tuhan atas kehadiran mereka dan menjadi pendoa yang mau mendengarkan kisah pergumulan mereka dan membawanya ke hadapan Tuhan siang dan malam.
Penulis: Yohan Winata, S.Pd, M.Th