News Breaking
Youtube
wb_sunny

Breaking News

APA PILIHANMU...ALLAH ATAU MAMON

APA PILIHANMU...ALLAH ATAU MAMON


          Ev Johanes Purwono 

ARTIKEL- Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada mamon (Matius 6: 24).

Ucapan Yesus ini sangat tegas dan jelas. Dia menuntut setiap orang menentukan sikap dalam memilih pengabdiannya. Hanya saja, terasa tak lazim ketika pilihan yang diperhadapkan adalah Allah atau mamon.
Sepertinya Yesus mensejajarkan posisi antara Allah dan mamon... sebab banyak orang memilih yang salah.

Banyak pilihan umat yang berakhir pada kesalahan adalah penyembahan mamon, bukan penyembahan Allah.
Adalah tepat jika Yesus menegaskan pada umat untuk memilih Allah atau  mamon.

Mengapa kini Yesus mengatakan pilihan antara Allah atau mamon? Menarik bukan?
Dalam surat Rasul  Paulus memperingatkan bahwa cinta akan uang adalah akar segala kejahatan. Uang telah mengakibatkan orang menyimpang dari kesejatian iman (1 Timotius 6: 10). 

Mereka terjebak jerat uang dan menjadi budak uang. Lalu, dalam surat yang kedua Rasul Paulus juga mengingatkan bahwa di jaman akhir ini manusia menjadi hamba uang (2 Timotius 3: 2).
Uang bukanlah dosa, tetapi cinta uang, apalagi menjadi hambanya uang, itulah yang dosa.

Mamon, berasal dari kata Aram “mamona”, yang secara umum berarti kekayaan atau keuntungan, dan dalam pemakaiannya mengacu kepada harta atau uang. Memiliki mamon yang banyak bukan masalah jika cara memilikinya benar. Pilih Allah atau mamon (baca: uang)? Pilihan ini tidak berarti mamon itu salah, karena mamon yang kita miliki adalah berkat Allah juga. 

Tetapi memilih mencintai mamon, apalagi menghambakan diri pada mamon, bukan Allah, itulah yang salah. Seperti Yesus juga memperingatkan: “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada”. Jadi, kepada siapa engkau jatuh cinta dan menaklukkan diri, itu adalah pilihan hidup mati.

Pertanyaan pilihan ini menunjukkan betapa dahsyatnya akibat yang ditimbulkan mamon. Mengapa mamon, bukan Baal? Karena, dalam konteks jaman PB, Baal dianggap simbol kesesatan dan bernilai rendah di mata umat Israel, khususnya di lingkungan orang Farisi. Orang Farisi yang selalu merasa suci, ogah dengan Baal, mencibir Baal. 

Namun, di sisi lain meraka sangat mencintai uang. Para imam Israel banyak mengumpulkan uang atas nama ibadah dan persembahan untuk rumah Tuhan. Mereka juga memakai uang untuk mempengaruhi khalayak ramai agar sepakat menyalibkan Yesus. Mereka sangat suka “mandi uang”, menjadi kekasih uang, sekalipun mereka membenci Baal. 

Di sisi lain, Baal ternyata semakin hari semakin terpinggirkan. Baal terlau mencolok untuk sebuah kesesatan, sementara mamon sangat halus dan mudah disembunyikan. 
Seperti Yudas yang selalu tampak mencintai orang miskin dan rindu membagikan uang, ternyata sangat mencintai uang dengan memakai topeng kemiskinan. 
Atau para imam PB yang selalu mengkhotbahkan kebenaran dan mengajak umat memberi persembahan, namun ia sendiri tidak mampu memberi persembahan dengan baik, bahkan “menjarahnya” untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.

Di jaman modern, berhala semodel Baal tidak lagi punya tempat. Itu terasa sangat kuno, kurang terhormat. Sementara tuan Uang, semakin hebat pengaruhnya, bahkan bisa membuat pengikutnya menjadi orang terhormat dengan cara membeli kehormatan. Wow, hebat sekali si tuan Mamon. Sudah terlalu banyak orang yang diantar ke singgasana kekuasaan oleh tuan Mamon. 

Mereka duduk dengan pongah atas jaminan kekuatan uang, dan, setiap orang yang berbeda dengan mereka akan menghadapi kehancuran karena jangkauan tuan Uang sungguh tak berbatas. Apa pun bisa mereka beli, termasuk imitasi “cinta, kebenaran, keadilan”, dan segala yang mereka inginkan.

Ada banyak orang rela berbuat apa saja, memenuhi tuntutan tuan mamon, demi ijin untuk menjadi pengikutnya. Orang tak segan menjual harga diri, demi tuan mamon. Bahkan ada orang yang rela menjual Allah demi mamon, dibanding orang yang melepas mamon demi Allah.

Semakin hari dunia semakin merapuh, seturut dengan degradasi moral yang semakin menjadi. Jadi, tidaklah heran jika Yesus membuat pilihan antara Allah dan mamon. 

Kenyataan ini menggugat kita sebagai orang percaya untuk membuat pilihan tepat, agar tidak tersesat di buaian maut tuan Uang. Di sisi lain, semakin panjang pula barisan gereja yang cinta uang. 

Orang ber-uang selalu diperebutkan, sementara yang miskin ekonomi terus terabaikan. Belum lagi, menilai gereja berhasil atau tidak, bukan lagi diukur dari azas kualitas melainkan kuantitas. Bukan pertumbuhan iman, melainkan pertumbuhan aset dan kehormatan.
Uang tentu saja dibutuhkan untuk biaya operasional pelayanan gereja, namun yang menjadi kesalahan adalah karena uang menjadi tuan di dalam gereja. Uang menggantikan posisi Allah, ini yang salah. Nama Allah hanya dipakai untuk mengoleksi uang. 

Virus tuan Uang memang telah merangsek masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan umat, khususnya di tengah konteks jaman yang sangat mempertuan uang. Tuan Uang telah membuat jual-beli tidak lagi sekadar meliputi barang, melainkan orang.

Bukan untuk menjadi budak pada yang lainnya, melainkan saling memenuhi hasrat. Yang satu hasrat kepuasan rasa, sementara yang lain hasrat kepuasan uang. 

Tapi yang pasti, keduanya telah menjadi budak uang. Yang satu rusak karena mencari uang, sementara yang lainnya rusak karena menghamburkan uang. Tapi, sekali lagi, yang pasti keduanya rusak karena menjadi budak tuan Mamon.

Berapa banya orang kristen bahkan yang menyebut diri hamba Tuhan terjebak dalam sebuah pilihan, guna memuaskan hawa nafsunya demi menikmati hidup.
Sekarang pilihan ada pada kita: pilih Allah atau mamon. 

Kita harus membuat keputusan bijak, mana yang terpenting dalam kehidupan... Ingat uang bukan dosa, tetapi juga bukan tuan. Uang memang bisa membeli segalanya, tetapi uang bukan segala-galanya. Namun Tuhan adalah segalanya, yang sudah nyata telah memberikan hidupNya untuk menebus dosa dan memberikan kekekalan. 

Semoga Anda dan saya mengabdi kepada yang sejati, yang telah menjanjikan setia... yaitu Allah, didalam Tuhan Yesus Kristus pencipta dan pemilik manusia dan alam semesta. Haleluya..

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.