News Breaking
Youtube
wb_sunny

Breaking News

Politik dalam Perspektif Perjanjian Lama (2 Sam. 3:1-39)

Politik dalam Perspektif Perjanjian Lama (2 Sam. 3:1-39)


ARTIKEL TABLOID TRUTH- Setelah membahas perbuatan Abner kepada Asael, barulah, kita siap membahas dua peristiwa selanjutnya. Abner, orang yang berpengaruh bagi Isyboset, selama terjadi peperangan antara keluarga Saul dan Daud (ay.6).

Suatu hari, raja Israel itu berkata, “Mengapa kauhampiri gundik ayahku?” Panglima itu meresponi dengan marah; mengingatkan betapa setianya dia terhadap keluarga, sahabat-sahabat Saul, kemudian berjanji akan, “… yakni memindahkan kerajaan dari keluarga Saul dan mendirikan takhta kerajaan Daud atas Israel dan atas Yehuda, dari Dan sampai Bersyeba” (ay.10). Abner berikhtiar menyatukan dua kelompok yang terpecah itu di bawah kepemimpinan Daud. Mendengar hal itu, Isyboset ketakutan. 

Abner diterima Daud dengan syarat: membawa Mikhal, anak Saul, ke istananya. Permintaan ini diteruskan kepada Isyboset, kemudian, dikerjakan oleh panglima Israel itu. Tekad Abner semakin bulat setelah mendapatkan dukungan dari tua-tua Israel dan orang-orang Benyamin (ay. 19). 
Selanjutnya, dia menemui Daud di Hebron. Penyambutan diberikan. Sebelum pulang, Abner menyampaikan rencananya: mengumpulkan seluruh orang Israel untuk mengikat perjanjian raja-rakyat dengan Daud (ay.21).                      
Setibanya Yoab di Hebron, dia mendapatkan informasi: raja melepaskan Abner (ay. 23). Dia menghadap raja dan menyampaikan penilaiannya atas kunjungan Abner: upaya untuk menipu dan mencari infomasi tentang rencana Daud (ay. 25). 
Segera, Yoab mengejar dia dan menyuruh anak buahnya untuk membawa Abner kembali ke Hebron. Panglima Yehuda tiba, mendekati Abner dan menikamnya.    

Daud memanggil Yoab dan menyampaikan: dirinya dan kerajaannya tidak bersalah atas kematian Abner. Hutang darah ditanggung Yoab dan keturunannya. 

Disamping itu, keturunan Yoab akan mengalami pendarahan, kusta, tuna daksa (“yang bertongkat”) atau kelaparan (ay. 29). Raja Yehuda dan pegawai istananya menguburkan Abner di Hebron. Sesampainya di sana, Daud menangis dan mengucapkan nyanyian ratapan. 

Setelah menguburkan, semua rakyat menawari sang raja untuk makan. Daud menolak; berpuasa karena Abner. Semua orang Yehuda dan Israel mengetahui dan menyakini: Daud bukanlah otak pembunuhan Abner (ay.37).                 
Mungkin Anda merespon seperti saya terhadap tindakan pengutukan Daud kepada Yoab, “Mengapa dia begitu kejam?” Tindakan panglima itu tidak melanggar hukum Musa: nyawa ganti nyawa? Di mana letak kesalahan kakak Asael itu?    
Daud menilai perbuatan Yoab dan adiknya sebagai kejahatan. Raja itu menyadari bahwa dirinya lemah karena belum mendapatkan dukungan dari pihak rakyat Israel sebagai raja mereka. 

Dia memerlukan Abner untuk menaikkan pengaruh Daud menggantikan Saul melalui rencana pemersatuannya.  
Rencana pemersatuan dua kelompok besar rakyat terancam gagal karena tindakan panglimanya. 

Belum lagi, resiko kehilangan kepercayaan rakyat karena dianggap dalang atas kematian Abner serta kemungkinan meletusnya perang saudara. Dugaan itu dijungkirbalikkan dengan respon Daud: menolak dihiburkan oleh seluruh rakyat (memilih berpuasa sampai petang). 

Jika dia dalangnya, reaksi normalnya tidak akan sampai sejauh ini. Dukacita otentik Daud sama tingkatannya dengan dukacita Yakub waktu mendengar berita Yusuf diterkam binatang buas (Kej. 37:35). Dampak lain dari tindakan raja Yehuda itu: perang saudara berhasil dicegah.  
Lebih jauh, keberpihakan Abner kepada Daud membawanya menjadi jenderal di bawah dia, pembunuhan sesama jenderal dipandang kejam. Meninjau cara kematian Abner, penulis menyimpulkan: dia mati tidak terhormat (tidak bersenjata untuk membela dirinya). 
Analisa-analisa di atas membawa kita kepada suatu kesimpulan: pentingnya pendekatan politik di samping teologi untuk memahami kompleksitas pengutukan Daud atas Yoab dan keturunannya.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.