News Breaking
Youtube
wb_sunny

Breaking News

Kepedulian yang Menyelamatkan (2 Sam. 2:1-32)

Kepedulian yang Menyelamatkan (2 Sam. 2:1-32)

      Ev Yohan Winata, SPd, M.Th

ARTIKEL TABLOID TRUTH- “Raja, tidak adil!”, teriak Yoab. “Bagaimana mungkin Yehuda dan kelak Israel akan dipimpin oleh raja kejam dan tidak bijaksana?”, penilaian awal saya ketika membaca keputusan Daud atas tindakan Yoab. 

Kisah ini tidak langsung ada begitu saja. Ada kisah yang mendahului. Dikisahkan pasca kematian Saul, Israel terbagi menjadi dua: sepuluh suku Israel dipimpin oleh anak Saul, Isyboset (2:8-9) dan dua suku lain dipimpin oleh Daud (2:7). 

Suatu hari Abner dengan pasukannya bergerak ke Gibeon. Di sana, mereka melihat Yoab dan pasukannya. Kedua panglima bertemu; Abner mempunyai ide: prajurit lawan prajurit (2:14). Dua belas lawan dua belas. Mereka berusaha mengalahkan satu dengan yang lain. Namun kertakan gigi menyambut datangnya lawan  berubah jadi perintah mundur Abner. Mereka melarikan diri ke sana-sini (ay. 18, 21). 
Asael, adik Yoab, mengejar Abner. Panglima Israel itu meminta adik temannya itu untuk melepaskannya, “Menyimpanglah ke kiri atau ke kanan, tangkaplah salah seorang dari orang-orang muda itu dan ambillah senjatanya.” Asael menolak! 

Peringatan untuk meninggalkan Abner disampaikan terakhir kali. Tapi Asael mengabaikannya. Merasa terancam, Abner mengubah cara pegang tombaknya: ujung tombak memagari bagaian belakangnya. Tombak ditancapkan ke perut Asael. Kedua kakaknya yang tidak terima akan kematian adiknya mengejar Abner. 
Abner mendapat bala bantuan: pasukan bani Benyamin di belakang dia. 

Dia berbicara kepada Yoab; mengangkat isu tentang bahaya perang saudara (ay. 26) serta meminta pemberian komando untuk berhenti perang di pihak Yehuda. Yoab menanggapi hal ini dengan menyampaikan andil Abner dalam perisitiwa ini. 

Panglima Israel itu seharusnya bisa menghentikan jatuhnya korban dari kedua belah pihak dengan meminta untuk perang dihentikan namun tidak dilakukannya (ay. 27). Segera setelah menyampaikan pendapatnya, panglima Yehuda meniup sangkakala sebagai tanda perang oleh tentaranya harus dihentikan.                                   
Abner kembali ke Mahanaim. Yoab memeriksa pasukannya yang gugur dalam peperangan itu; didapati sembilan belas orang gugur, termasuk Asael. Dia menguburkan adiknya di kuburan keluarga milik ayahnya di Betlehem. Setelah itu, dia pulang ke Hebron.       

Berdasarkan kisah di atas, hal yang dapat kita pelajari yaitu pembiaraan pemimpin kepada bawahannya ketika mereka menjalankan tugas, mengakibatkan sengsara bagi pengikutnya dan dirinya. Berdasarkan keterangan Yoab, jika Abner meminta pertempuran dihentikan di pagi hari, maka, jumlah pasukan yang gugur hanya dua puluh empat orang.

Pertempuran meluas; nyawa Yoab terancam oleh Asael (ay.19-22) dan tiga ratus enam puluh pasukan Abner gugur (ay. 31). Lebih jauh, ancaman perang saudara di depan mata.  

Bagaimana dengan kita: hal apakah yang dapat dipelajari? Apakah kita mendesak orang-orang untuk melakukan tujuan kita tanpa mengetahui kesulitan yang terjadi? Kita perlu memikirkan tentang pentingnya: menghargai proses dari pada menitikberatkan hasil. 

Menghargai proses berarti kita menjadi adaptif atas ekspektasi diri (membantu diri sendiri agar tidak kecewa atau tertekan) dan dalam pengambilan keputusan taktis terkait masalah yang terjadi. Kepeduliaan kita kepada tim mencerminkan teladan kepedulian Yesus kepada murid-murid-Nya. 

Dia tidak mengorbankan Petrus: menyuruh melawan prajurit-prajurit dan penjaga-penjaga bait Allah waktu di Taman Getsemani melainkan meminta dia memasukkan pedangnya dan menyembuhkan Malkhus (Yoh. 18:10). 
Bahkan, Yesus meminta murid-murid-Nya dibebaskan pada waktu penangkapan-Nya, “Jawab Yesus:”Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi.” (ay. 8)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.