Be Responsible (Menjadi Pribadi yang Bertanggung Jawab)
ARTIKEL TABLOID TRUTH- Setiap orang dilatih untuk bertanggung jawab, tak terkecuali, para remaja dan pribadi yang memasuki masa dewasa awal (18-40 tahun).
Mereka umumnya bergumul dengan masalah seputar keuangan, waktu, kepercayaan, kesehatan, dll. Sebagai contoh: di kalangan remaja, belajar kelompok adalah hal yang ditunggu-tunggu.
Mereka bisa mengerjakan tugas di luar kelas, bersama-sama dengan teman (mengenal teman-teman lebih dekat) dan kerja tugas jadi lebih ringan. Sungguh asyik!
Di sisi lain, kita dengar cerita di sekeliling kita (mungkin dari teman kita). Anaknya pamit belajar kelompok tapi ketika ditanyakan ke tuan rumah; ternyata di hari itu tidak ada belajar kelompok. Ketika ditanya, kamu pergi ke mana dengan santainya anak teman kita menjawab, “Tadi aku ngemall and nonton, mama”.
Hati orang tua mana yang tidak hancur saat menyadari anaknya menyalahgunaan kepercayaan. Kalau diumpamakan, tindakan anak ini seperti anak panah di permainan dart; dilempar dengan tujuan mengenai bull eye tapi ternyata meleset (tidak mengenai sasaran).
Pekerjaan rumah yang harus dikerjakan yaitu bagaimana mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Hal ini dimungkinkan apabila kita mengerti teologi kerja.
Poros konsep ini membahas mengapa Tuhan menciptakan manusia pertama dan mandat budaya. Adam diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kej. 1:26) dengan tugas, “…; penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (ay. 28).
Tidaklah tepat jika kita memahami perintah untuk berkuasa sebagai tindakan penaklukan (eksploitasi alam) namun bertindak sebagai wakil Allah di dunia ini yang membangun peradaban (membentuk budaya melalui karya berbentuk manuskrip, seni, bahasa, dll yang dibuat secara kreatif memakai bahan yang ada di alam (yang sudah Tuhan ciptakan). Membaca Kejadian 2:15 memperjelas kita tentang tugas yang sejajar: memelihara semua ciptaan-Nya.
Nah, bagaimana kita menerapkan konsep ini untuk membantu mengatasi masalah anak remaja kita atau membantu kita (para remaja)? Resetting, mengatur ulang pola pikir melalui petunjuk Firman Tuhan, diperlukan. Setelah resetting bertahap berhasil, kita perlu memelihara pola kehidupan baru.
Petunjuk praktis Firman Tuhan diambil dari surat pastoral Paulus dan tulisan rasul Petrus. Petunjuk praktis tersebut dipilih karena memperhatikan kesamaan perintah “memelihara”, yang dalam Perjanjian Lama diperoleh sebagai akibat pemaknaan mandat budaya yang menghasilkan teologi kerja.
Lebih jauh, kita juga menemukan petunjuk tentang bagaimana mendaratkan teologi kerja jika memakai padanan kata “memelihara”: “menjaga” dan “merawat”.
Orang percaya diminta untuk memelihara iman (2 Tim. 4:7). Teladan Rasul Paulus ini dimaknai mempertahankan kesetiaan atau iman kepercayaan kepada Yesus.
Selain itu, kita diminta menjaga lidah agar tidak berkata bohong (1 Pet. 3:10). Orang yang menjaga lidah berarti menjaga agar orang lain percaya pada dirinya. Pengembangan ide ini berbentuk semboyan hidup: mengatakan apa yang dilakukan dan melakukan apa yang dikatakan.
Ada merawat yang tidak diperbolehkan di Perjanjian Baru. Merawat tubuh untuk memuaskan keinginannya (Rm. 13:14). Makna yang lebih jelas kita peroleh jika melihat Terjemahan Lama. Perintah janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya, diterjemahkan “janganlah melazatkan tabiat tubuhmu sehingga menguatkan hawa nafsu”. Kita tidak boleh menuruti tabiat tubuhmu yang berdosa yang dapat membangkitkan keinginan.
Meskipun sudah percaya kepada Tuhan Yesus, kita bisa tergoda dan berdosa memakai media tubuh kita serta kita tetap berjuang ini dengan hal ini karena belum mengalami penggantian tubuh yang fana ke tubuh kemuliaan. Perintah ini tidak boleh dimaknai di zaman ini sebagai larangan untuk merawat tubuh bagi kita (termasuk remaja-pemuda).
Kita boleh memakai skin care atau melakukan manicure atau pedicure atau perawatan jenis lain; sekadar merawat tubuh yang baik pemberian Tuhan. Akan jadi salah, jika usaha ini dilakukan dengan motif yang salah: tubuh yang terawat dipakai untuk membangkitkan hawa nafsu orang lain atau dalam kasus tertentu, dia mengingini diri sendiri sedemikian rupa sehingga mengarah ke percabulan.
Dihubungkan dengan masalah zaman now, bagi orang-orang tertentu (oknum), merawat tubuh dilakukan sebagai modal diri untuk menghasilkan uang dengan tujuan membeli sesuatu (yang mungkin tidak bisa dipenuhi oleh orang terdekatnya).
Jika melakukan hal tersebut, maka, sejatinya dia melanggar perintah Tuhan dan norma kesusilaan yang ada.
Pola pikir baru sudah diajarkan, sekarang, kita perlu bertindak. Jika ingin perubahan terjadi, berdoa dan lakukan tiga nasehat praktis di atas secara kontinu. Jangan berpuas diri jika berhasil. Ingatlah mempertahankan lebih sulit dari pada mencapai! Tuhan Yesus memberkati.
Penulis: Yohan Winata, S.Pd, M.Th